Postingan

HIKAYAT JAYA LENGKARA

HIKAYAT JAYA LENGKARA Itulah kisah seorang raja yang terlalu besar untuk kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajung Saukat nama kerajaannya. Raja menikah dengan Putri Sukanda Rum. Tapi sejak ratu tidak melahirkan, dia menikahi bayak Putri Sukanda. Hatta berapa lama, bayangan Putri Sukanda melahirkan anak kembar bernama Makdam dan Makdim. Permaisuri takut kehilangan cinta sang raja sama sekali, lalu mendoakan anak itu. Doanya dikabulkan. Hatta berapa lama, dia juga melahirkan anak laki-laki yang terlalu bagus untuk dilihat. Anak itu adalah Jaya Lengkara. Sedangkan untuk Jaya Jadi, negara terlalu makmur, makanan murah dan banyak pedagang yang datang pergi. Semua astrolog, hulubalang dan orang-orang juga bersyukur kepada Tuhan. Kemudian raja mengirim anak laki-laki lain, Makdam dan Makdim pergi untuk menanyakan tentang nasib Jaya Langkara di sebuah kadi. Kadi meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sihir dan tidak ada penguasa besar yang bisa melawannya...

Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah (Sindi Lestari X RPL 3)                  Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak dari Hang Mahmud. Mereka tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di sungai Duyung mendengar kabar tentang Teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu, “Ayo kita pergi ke Bintan, negeri yang sungguh besar, apalagi kita ini adalah orang miskin. Lebih mudah kita mencari pekerjaan disana”. Esok harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk kebutuhan sehari-hari.                  Datanglah seorang pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang yang terluka bahkan mati karena ulah pemberontak. Gemparlah negeri Bintan tersebut dan terjadi kekacauan dimana-mana. Ada seseorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah. “Hai Han...

Hikayat Burung Cenderawasih

HIKAYAT BURUNG CENDRAWASIH      Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih.     Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawa...

Hikayat “Pengembara Yang Lapar”

  Pengembara yang lapar Tersebutlah kisah tiga orang sahabat, Kendi, Buyung dan Awang yang sedang mengembara. Mereka membawa bekalan makanan seperti beras, daging, susu dan buah-buahan. Apabila penat berjalan mereka berhenti dan memasak makanan. Jika bertemu kampung, mereka akan singgah membeli makanan untuk dibuat bekal dalam perjalanan. Pada suatu hari, mereka tiba di kawasan hutan tebal. Di kawasan itu mereka tidak bertemu dusun atau kampung. Mereka berhenti dan berehat di bawah sebatang pokok ara yang rendang. Bekalan makanan pula telah habis. Ketiga-tiga sahabat ini berasa sangat lapar, “Hai, kalau ada nasi sekawah, aku akan habiskan seorang,” tiba-tiba Kendi mengeluh. Dia mengurut-ngurut perutnya yang lapar. Badannya disandarkan ke perdu pokok ara. “Kalau lapar begini, ayam panggang sepuluh ekor pun sanggup aku habiskan,” kata Buyung pula. “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,” Awan...

"HIKAYAT PANGLIMA BURUNG ( BULAN JIHAD)"

Hikayat Panglima Burung justru menjadi sangat mencuat tatkala terjadi kerusuhan etnis tahun 2001 di Kalimantan Tengah. Saat itu Panglima Burung sebagai tokok gaib Dayak benar-benar dijadikan sandaran dalam menghadapi serangan etnis tertentu dari seberang. Apa boleh buat, sesuatu yang telah dilupakan menjadi bangun ke alam nyata. Lalu siapa Panglima Burung dan bagaimana latar belakang ketokohannya? Inilah sebagian kecil jawabannya, jawaban dari versi Suku Dayak yang mendiami DAS Barito. Kerusukan etnis yang mulai pecah sejak 18 Pebruari 2001 di Sampit memaksa Panglima Burung hadir dan membantu warga suku Dayak berperang dan mengusir warga etnis Madura. Sebagai Panglima besar, tentu saja Panglima Burung tidak turun sendiri tetapi membawa sejumlah pengawal alias Pasukan Khusus. Kata Abdul Hadi Bondo Arsyad, seorang Temanggung Dayak dari Tumbang Senamang, Katingan Hulu, “Panglima Burung muncul dengan membawa 87 orang pasukan khususnya”. Kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali, Ketua Pondok ...

Hikayat Gunung Tidar Dan Tombak Kiai Panjang

Hikayat Gunung Tidar Dan Tombak Kiai Panjang Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya. Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal. Melihat kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau t...